Di Duga Kuat Pemecatan Lewi Salila Salah Seorang Pekerja Di SPPG MBG Sambiut Tidak Sesuai Prosedur

Banggai Kepulauan, Globalrakyat.com –
Lewi Salila salah seorang relawan SPPG MBG di Desa Sambiut Kecamatan Totikum Kabupaten Banggai Sulawesi Tengah yang bekerja di divisi pengolahan (masak nasi) di pecat tanpa dilakukan SP 1, SP 2 dan SP 3.

Menurut Lewi, dirinya di pecat oleh SPPI dengan tidak memberitahukan apa alasannya dan tanpa ada teguran tertulis.

“Saya di pecat oleh SPPI dengan tidak memberitahukan apa alasannya, tanpa ada teguran tertulis”, ungkap Lewi.

Katanya, langkah pemecetan ini tidak sesuai presedur dan semena mena. Sebagai warga negara, kita punya hak mendapatkan dan penghidupan melalui pekerja relawan. Ada teman teman divisi lain juga biasa terlambat, tapi perlakuan beda, ini tidak adil.

“Secara manusiawi langkah pemecetan ini tidak sesuai presedur dan semena mena. SPPI sebagai kepala SPPG bekerja di gaji oleh negara dengan segala fasilitas mengelolah uang negara. Sebagai warga negara, kita punya hak mendapatkan dan penghidupan melalui pekerja relawan. Ada teman teman divisi lain juga biasa terlambat, tapi perlakuan beda dengan saya. Jadi merasa ada semacam perlakuan tidak adil. Selama bekerja, target pekerjaan saya selesaikan dengan baik”, ujar Lewi.

Dirinya mengakui biasa datang terlambat tapi tidak terus menerus datang terlambat. Adapun saya biasa terlambat datang kerja karena masih Sholat malam.
“Iya kalo terlambat pernah, tapi tidak sesering. Dan saya akui Security datang membangunkan ke rumah. Saya bangun cuman belum langsung ke tempat kerja, karena masih Sholat malam”, ujarnya menjelaskan.

Soal masuk terlambat, ditambahkannya, bukan hanya dirinya, tapi ada di divisi divisi lainnya.

“Di Security ada “A”, kadang waktu piket pulang tidur ke rumahnya. Di divisi cuci ompreng “R”. Di Cleaning Servis juga ada 1 orang.
Di divisi peporsian “M”. Di divisi Persiapan ada juga. Dan Asisten Lapangan juga biasa datang terlambat. Kalo kita buka bukaan di absensi bisa jelas semua,” tegasnya.

Baca Juga Berita Ini:  Dirgahayu Republik Indonesia Ke 80 Tahun

Saat di wawancarai Wartawan Media Online Globalrakyat.com, saat di pecat, apakah ada alasan pemecatan ?Dijawabnya, Tidak ada.

“Tidak ada. Cuman pernah waktu runing on pertama dapur, saya terlambat datang. SPPI tegur saya secara lisan, bahwa saya mau di SP1,”ujarnya lagi.

Dirinya menambahkan selama bekerja, tidak pernah terlambat untuk menyelesaikan tugas memasak Nasi yang jumlahnya sebanyaknya 3 karung lebih setiap hari. Bahkan Sebelum di distribusi ke sekolah sekolah, pekerjaan memasak Nasi sudah selesai.

Menyoal pemecatan terhadapnya, dirinya menduga karena seringnya, dia melakukan protes.
“Saya berfikir mungkin saya yang selalu protes kebijakan. Mereka cari cari kesalahan saya.
Saya protes awal di penggajian yang tidak layak yang awalnya 60 ribu per hari. Kemudian ini saya mengajukan BPJS Ketenagakerjaan,” kata Lewi.

Moh. Gayu SPPI MBG Yayasan Batara Annajah Desa Sambiut, Kecamatan Totikum Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, yang diwawancarai via WA nomor +62 852-5638-2xxx perihal pemecatan, mengakui tidak pernah menyurati Lewi Salila.
“Jadi memang saya tidak pernah menyurati beliau,” ujar Gayu.

Namun menurutnya, dirinya pernah menegur Lewi Salila secara Lisan. Dan sudah memberikan kebijakan selama 2 bulan untuk berubah, tapi tidak ada perubahan. Maka di ambillah tindakan pemecatan.

“Sudah pernah saya tegur pak secara lisan, tidak melalui surat peringatan. Dan sudah saya kasih kebijakan selama 2 bulan itu untuk berubah, ternyata tidak ada perubahan. Maka saya ambillah tindak pemecatan. Daripada merusak sistem yang ada,” jelas Moh Gayu.

Baca Juga Berita Ini:  Akta Kelahiran Anak Angkat Disamakan Anak Kandung Dinilai Keliru Dan Berisiko Hukum, Muhammad Saleh Gasin Imbau Segera Diperbaiki

Dijelaskan lagi, langkah pemecatan dilakukan karena Lewi Salila sering datang terlambat. Seharusnya masuk kerja jam 00:00, namun masuk nanti jam satu, setengah dua, dan bahkan ada satu waktu datang jam tiga. Jadi sering terlambat.

Ditambahkannya, Lewi selain sering terlambat, juga selalu di bangunkan dengan mendatangi rumahnya.

“Nah hal-hal ini kemudian yang menjadi salah satu bentuk pertimbangan saya untuk melakukan pemecatan. Karena selama 2 bulan dapur berjalan, hal itu sering terjadi. Bahkan bukan sekali dua kali, tapi berulang kali. Dan hal itu sangat menggangu keseimbangan sistem yang ada, terutama partner kerjanya. Saya punya salah satu aturan yg mana sudah saya sampaikan di awal, bahwa ketika ada salah satu karyawan yang minta izin atau tidak hadir, usahakan ada laporan ke saya dan cari orang untuk pengganti dirimu sendiri yang kamu percaya, agar saya tidak pusing lagi untuk cari orang lain. Tetapi Lewi ketika tidak masuk kerja beliau tidak mencari pengganti untuk dirinya hari itu. Hal ini sangat berdampak sekali terhadap teman temanya yang lain. Karena pasti ketika ada salah satu orang yang tidak masuk maka mereka kekurangan tenaga,”ujar Gayu tegas.

Ditambahkannya lagi, di dalam juknis untuk MBG, prosedur pemecatan tidak di jelaskan secara rinci. Dan Sepengetahuan, bahwa para relawan yang bekerja di dalam MBG Desa Sambiut, hitungannya non kontrak.

Kepada Wartawan Media Online Globalrakyat.com, Moh Gayu mengajak, mengundang ke dapur MBG Sambiut untuk sharing-sharing, agar lebih jelas.
“Selebihnya pak, kita bisa sharing-sharing di dapur pak biar lebih jelas, kami dari pihak dapur sangat welcome biar kita bisa bahas juknis dan sebagainya,” harapnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *