Banjir Bandang Hancurkan Bak Air Dan Jembatan Di Desa Lee, Warga Harap Perhatian Pemerintah

Morowali Utara, Globalrakyat.com – Banjir bandang yang melanda Desa Lee,Kecamatan Mori Utara Kabupaten Morowali Utara, pada Februari 2026 menyebabkan sejumlah kerusakan fasilitas vital dan kerugian bagi warga.

Kepala Desa Lee, Trisno Dumpele, pada 7 Maret 2026 menjelaskan bahwa sebelum bencana terjadi, krisis air bersih di desa tersebut sebenarnya hampir teratasi melalui pembangunan bak penampungan air yang bersumber dari dana aspirasi anggota dewan, Holiliana.

Namun harapan masyarakat untuk mendapatkan akses air bersih kembali pupus setelah banjir bandang menghancurkan bak intake air tersebut.

“Pembangunan bak air sebenarnya sudah selesai 100 persen. Tetapi setelah banjir bandang pada Februari lalu, bak intake tersebut hancur lebur akibat terjangan banjir,” kata Trisno.

Baca Juga Berita Ini:  Bupati Morut Lantik 5 Kades Dan Kukuhkan 114 Kades Untuk Periode 2025–2033

Banjir terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang mengguyur wilayah Desa Lee sejak Selasa, 10 Februari 2026. Luapan air sungai dengan cepat merendam permukiman warga.

Sekitar 35 rumah warga terendam banjir dengan ketinggian air antara 20 hingga 50 sentimeter.

Selain merendam rumah, banjir juga menyebabkan kerugian materiil bagi warga. Sejumlah barang elektronik seperti televisi, kulkas, mesin cuci, serta peralatan rumah tangga lainnya rusak akibat terendam air.

Tidak hanya itu, beberapa hewan ternak milik warga seperti ayam dan sapi juga ditemukan mati atau hanyut terbawa arus banjir.

Bencana tersebut juga merusak infrastruktur penting. Jembatan penghubung antara Desa Lee, Desa Saemba, dan wilayah sekitarnya yang merupakan bagian dari jalur Trans Sulawesi dilaporkan terputus. Sementara satu jembatan lainnya mengalami keretakan memanjang.

Baca Juga Berita Ini:  Kades Kolo Bawah Apresiasi Pemerintah, Bupati Delis Serahkan Santunan JKM Dan JHT Di HUT Ke-12 Morowali Utara

Akibatnya, aktivitas masyarakat sempat terganggu. Warga harus membersihkan lumpur serta sisa genangan air yang masuk ke rumah mereka.

Meski saat ini air telah berangsur surut, Trisno menyebut masyarakat masih membutuhkan perhatian dan bantuan untuk pemulihan pasca bencana.

“Kami berharap ada perhatian dari semua pihak, khususnya pemerintah daerah, untuk membantu pemulihan kondisi masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, untuk mengatasi terputusnya akses transportasi antar desa, warga secara swadaya dan bergotong royong membangun jembatan darurat agar mobilitas masyarakat dapat kembali berjalan.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *