Kombutokan, Globalrakyat.com – Mengawali awal tahun 2026, masyarakat Desa Kombutokan, Kecamatan Totikum, Kabupaten Banggai Kepulauan, dikejutkan oleh derasnya hujan yang disertai air pasang laut semalaman. Kondisi tersebut mengakibatkan tanggul pengaman pasang surut dan abrasi pantai mengalami patahan pada Sabtu malam, (3/1/2026) lalu.
Atas kejadian itu, awak media Globalrakyat.com meninjau langsung lokasi di sekitar muara Sungai Kombutokan dan pesisir pantai. Dari hasil pantauan, terlihat tanggul pengaman mengalami patahan dengan panjang sekitar 20 meter, tepat di bagian pinggiran muara sungai.
Awak media kemudian mengonfirmasi pihak kontraktor pelaksana, CV Bineka Banggai Bersatu, melalui sambungan WhatsApp. Pihak kontraktor menjelaskan bahwa patahan tanggul disebabkan oleh gerusan banjir yang terjadi pada 3 Januari 2026.
“Penyebab patahan adalah gerusan banjir yang terjadi di area tanggul. Langkah selanjutnya akan dilakukan perbaikan pada bagian tanggul yang retak sepanjang kurang lebih 37 meter. Saat ini masih dalam tahap pengukuran material serta pengangkutan batu,” ujar perwakilan kontraktor, Kamis (8/1/2026).
Ia menambahkan, proyek tanggul yang masih berusia sekitar tiga bulan tersebut masih sangat rentan terhadap tekanan dan beban. Apalagi, saat kejadian terjadi arus air pasang yang deras bersamaan dengan banjir bandang, sehingga memicu pusaran arus balik yang tidak dapat dihindari dan menyebabkan abrasi hingga tanggul patah.
Dalam pantauan awak media, patut diapresiasi respons cepat dari Tim Siaga Tanggap Bencana Kabupaten Banggai Kepulaun bersama pihak kontraktor pelaksana yang langsung meninjau lokasi kejadian.
Pihak kontraktor menegaskan komitmennya untuk bertanggung jawab penuh terhadap kerusakan yang terjadi.
“Kami tetap bertanggung jawab atas relokasi dan rehabilitasi di titik kerusakan,” tegasnya.
Sementara itu, berdasarkan hasil wawancara dengan warga setempat, khususnya yang tinggal di sekitar muara dan pesisir pantai, masyarakat mengaku sangat bersyukur dengan adanya pembangunan tanggul pasang surut tersebut. Menurut warga, pada bulan Oktober hingga Februari biasanya terjadi air pasang yang disertai hujan deras, sehingga ketinggian air bisa mencapai 60 sentimeter hingga 1 meter dan menggenangi rumah serta permukiman warga.
“Dulu kami sangat khawatir, karena air sering naik dan masuk ke rumah-rumah warga,” ungkap salah satu warga.
Masyarakat pun menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan dan pihak kontraktor atas pembangunan tanggul tersebut.
Terkait patahan yang terjadi, warga menilai hal itu murni akibat air pasang yang bersamaan dengan banjir bandang.
Pihak kontraktor juga menegaskan bahwa pembangunan ulang tanggul di titik kerusakan merupakan bagian dari tanggung jawab moral sebagai pelaksana proyek.
Pewarta : Arnol/Jefri





